
batampos – Kenaikan tarif impor Amerika Serikat terhadap produk asal Indonesia hingga 32 persen yang disebut-sebut mulai berlaku 1 Agustus 2025 mendatang dinilai sebagai ancaman serius bagi kelangsungan industri manufaktur di Batam.
Demikian disampaikan oleh Ketua Apindo Kota Batam, Rafki Rasyid. Ia menyatakan dampak dari kebijakan itu bisa memicu relokasi industri ke negara tetangga yang mendapatkan tarif lebih rendah seperti Vietnam dan Malaysia.
“Ini adalah ancaman serius buat industri manufaktur di Batam. Negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia itu tarifnya lebih rendah dari kita. Artinya, ada potensi industri yang ada di Batam pindah ke Malaysia atau Vietnam,” kata dia, Rabu (9/7).
Menurutnya, sektor yang paling berisiko terdampak adalah industri yang memiliki hubungan ekspor langsung ke Amerika Serikat, termasuk industri elektronik, mesin, dan sektor manufaktur lainnya. Dalam jangka pendek, ia mengimbau para pelaku usaha untuk tidak mengambil keputusan tergesa-gesa.
“Kita imbau supaya jangan mengambil langkah apapun karena saat ini memang belum berlaku. Menko Perekonomian juga sedang melakukan lobi ke Amerika untuk menurunkan tarif ini. Jadi kita tunggu saja dulu, pengusaha tetap tenang, jangan panik,” ujarnya.
Rafki pun berharap agar tarif yang dikenakan ke Indonesia bisa ditekan lebih rendah, idealnya di bawah 30 persen atau bahkan mendekati 20 persen. Perbedaan tarif yang cukup besar antar negara akan memengaruhi daya saing Batam sebagai lokasi investasi, terutama untuk industri yang berorientasi ekspor.
“Kalau mengganggu investor, itu pasti. Akan ada kemungkinan relokasi ataupun pembatalan investasi oleh perusahaan yang punya hubungan bisnis dengan Amerika,” kata dia.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah efek jangka panjang setelah tarif diberlakukan. Ada kemungkinan langkah rasionalisasi dari pengusaha, termasuk pengurangan tenaga kerja dilakukan demi efisiensi biaya.
“Akan ada ancaman peningkatan pengangguran terbuka untuk Batam dan Kepri,” ujarnya.
Untuk mencegah dampak tersebut, Apindo Batam mendorong pemerintah, khususnya BP Batam, agar segera menyiapkan insentif tambahan bagi pengusaha yang tetap bertahan di Batam.
Di sisi lain, kata Rafki, kebijakan tarif ini adalah bagian dari strategi ekonomi Donald Trump yang bertujuan membawa kembali industri ke dalam negeri Amerika. Bahkan, pemerintah AS membuka peluang bagi perusahaan asing yang bersedia membuka investasi di Negeri Paman Sam itu agar mendapatkan keringanan tarif.
“Ini murni tindakan ekonomi dari Trump. Tapi dampaknya ke depan kita belum tahu seperti apa, karena situasinya bisa berubah sewaktu-waktu,” ujar Rafki. (*)
Reporter: Arjuna



