
batampos – Sebuah inovasi yang lahir dari kepedulian terhadap lingkungan dan pemberdayaan masyarakat berhasil diwujudkan oleh tim peneliti dari Politeknik Pariwisata Batam.
Melalui program hibah penelitian BIMA, tim ini mengembangkan sebuah mesin pengolahan limbah laut menjadi kerajinan tangan yang kini telah dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir di kawasan Ekowisata Pandang Tak Jemu, Kampung Tua Bakau Serip, Kota Batam.
Penelitian ini dilaksanakan sejak Juni hingga September 2025 dan dipimpin oleh Dr. Ir. Arina Luthfini Lubis, ST., MBA., IPM. selaku ketua tim, bersama dua anggota: Frangky Silitonga, S.Pd., M.S.I dan Putri Sima, mahasiswa aktif dari kampus yang sama.
Dalam kegiatan ini, tim peneliti merancang sebuah mesin yang mampu mengolah limbah laut seperti kerang jantan dan gonggong, yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal, menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi.
Inisiatif ini tidak hanya memberi nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat, namun juga berkontribusi nyata dalam pengurangan sampah laut yang selama ini menjadi persoalan lingkungan pesisir.
Proses pengembangan mesin dilakukan dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat dan mitra lokal sejak awal.
Tim peneliti memulai dengan melakukan survei lapangan dan identifikasi kebutuhan riil masyarakat, khususnya bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pandang Tak Jemu.
Temuan dari survei tersebut kemudian menjadi dasar dalam perancangan mesin, yang secara spesifik dirancang untuk membantu memecahkan persoalan pengelolaan limbah laut yang selama ini mereka hadapi.

Setelah melalui tahap desain dan produksi, mesin kemudian ditempatkan langsung di lokasi dan diserahkan kepada masyarakat untuk dimanfaatkan dalam kegiatan produksi kerajinan.
Untuk memastikan kualitas dan keberlanjutan operasional, tim peneliti melibatkan mitra industri yaitu PT. Kaitek Syamra Inovasi sebagai produsen mesin, yang memproduksi perangkat tersebut berdasarkan desain dan spesifikasi teknis dari tim riset.
Mesin ini kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan menambahkan fitur teknologi seperti photoelectric sensor, mesin drilling, dan sistem instalasi air yang mendukung efektivitas produksi.
Tak hanya berhenti pada teknologi, tim juga memberikan pelatihan intensif melalui workshop kepada masyarakat Pandang Tak Jemu, sehingga mereka tidak hanya menerima alat, tetapi juga memperoleh keterampilan teknis untuk mengoperasikannya secara mandiri. SOP (Standard Operating Procedure) disusun sebagai panduan praktis penggunaan mesin, serta untuk memastikan keberlangsungan manfaat jangka panjang.
Ketua tim peneliti, Dr. Arina Luthfini Lubis, menegaskan bahwa penelitian ini bukan semata hasil akademik, tetapi juga sebuah bentuk tanggung jawab sosial perguruan tinggi dalam menyentuh persoalan nyata di lapangan.
“Kami tidak ingin inovasi ini hanya berhenti di laboratorium. Mesin ini dirancang agar mudah digunakan oleh masyarakat, memperkuat ekonomi lokal, dan sekaligus menjadi solusi lingkungan. Dengan pendekatan kolaboratif antara kampus, mitra industri, dan masyarakat, kami berharap riset ini bisa direplikasi di wilayah pesisir lainnya di Indonesia,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Pokdarwis Pandang Tak Jemu, Gari Dafit Semet, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran tim peneliti yang dinilai membawa dampak langsung bagi kehidupan masyarakat sekitar.
“Kami merasa sangat terbantu. Mesin ini bukan hanya alat produksi, tapi juga simbol kolaborasi. Dengan adanya pendampingan dari tim Poltekpar Batam, kami punya harapan baru untuk mengembangkan produk kreatif dari laut, yang sebelumnya hanya jadi limbah,” ujarnya.
Kegiatan ini juga berhasil menggerakkan antusiasme masyarakat, khususnya kelompok ibu-ibu pengrajin dan pelaku UMKM lokal.
Produk kerajinan berbahan limbah laut yang mereka hasilkan kini mulai dipasarkan sebagai cendera mata khas kawasan wisata, yang tidak hanya unik tetapi juga mengandung pesan pelestarian lingkungan.
Lebih dari sekadar inovasi teknologi, program ini menunjukkan bagaimana riset terapan dapat menjadi solusi nyata yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Harapannya, kolaborasi seperti ini terus diperluas dan diperkuat agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat pesisir di seluruh Indonesia, sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal. (*/adv)



