
batampos – Warga di dua kelurahan, Seibinti dan Seilekop, Kecamatan Sagulung, mengeluhkan debu tebal dan suara bising yang dihasilkan oleh lalu lalang truk proyek di jalan penghubung antarwilayah tersebut. Kondisi ini sudah berlangsung beberapa pekan terakhir dan mulai mengganggu aktivitas serta kesehatan warga, terutama para pengendara motor.
Truk-truk besar yang hilir mudik mengangkut tanah dari lokasi proyek pematangan lahan, menyisakan debu tebal yang beterbangan. Debu ini bahkan menutupi badan jalan dan masuk ke rumah-rumah warga yang tak jauh dari lokasi.
“Dada sesak, mata perih. Kalau truk lewat kencang, debunya langsung mengepul, apalagi siang hari, panas dan debu jadi satu,” kata Susanto, warga Seibinti, Selasa (30/9).
Tak hanya debu, warga juga resah dengan kecepatan truk yang ugal-ugalan. Banyak truk proyek melaju tanpa memperhatikan keselamatan pengguna jalan lain.
“Kami sering ngerem mendadak. Pandangan bisa hilang sesaat karena debu. Kalau ada anak sekolah atau ibu-ibu naik motor bisa bahaya,” ucap Mirna, pengguna jalan yang setiap hari melintas di jalur tersebut.
Pantauan di lapangan, proyek pematangan lahan terlihat aktif, terutama di samping kawasan industri Candi Bantar. Truk roda sepuluh tampak hilir mudik membawa muatan tanah. Tak sedikit dari mereka yang membawa muatan tinggi dan tak tertutup terpal, memperparah sebaran debu di jalan.
Selain debu, warga juga mengeluhkan getaran dan suara bising dari kendaraan berat yang melintas terus-menerus. “Kalau malam juga masih ada truk lewat. Rumah ikut bergetar, tidur jadi terganggu,” ujar Yunita, salah seorang warga yang tinggal tak jauh dari jalan utama.
Menanggapi keluhan itu, Lurah Seibinti, Jamil, mengakui pihaknya sudah menerima aduan dari warga dan berharap ada pengaturan aktivitas proyek agar tidak merugikan masyarakat.
“Kami tidak menolak proyek. Tapi jangan sampai warga jadi korban. Kami minta pengelola proyek tertib: jangan kebut-kebutan, jaga kebersihan jalan, dan pastikan muatan ditutup rapat,” tegas Jamil.
Ia juga mendorong pihak pengembang untuk melakukan penyiraman jalan secara berkala, terutama saat jam sibuk. “Semua pihak ingin nyaman. Jalan tetap dipakai bersama, bukan hanya truk proyek,” tambahnya.
Masyarakat berharap, pemerintah dan aparat tidak tinggal diam. Setidaknya, ada pembatasan kecepatan untuk kendaraan proyek, penegakan aturan muatan, dan pengawasan berkala terhadap kegiatan pematangan lahan di lokasi tersebut.
“Kami tidak minta proyek dihentikan. Tapi tolong ada pengawasan dan tindakan tegas. Kalau dibiarkan, tinggal tunggu waktu sampai ada yang celaka,” ujar Susanto. (*)
Reporter: Eusebius Sara



