
batampos – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada periode Juli 2023 terjadi inflasi bulan ke bulan sebesar 0,27 persen di Kota Batam. Hal ini karena ada kenaikan indeks harga konsumen dari 114,34 pada Juni menjadi 114,65 di Juli 2023.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Batam, Agus Kadaryanto mengatakan, inflasi Kota Batam pada bulan Juli 2023 terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya tujuh indeks kelompok pengeluaran. Ketujuh kelompok ini ialah kelompok transportasi naik 1,35 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya naik sebesar 0,50 persen, kelompok pakaian dan alas kaki naik sebesar 0,30 persen, kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik sebesar 0,20 persen.
Lalu ada juga kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik sebesar 0,19 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga naik sebesar 0,07 persen serta kelompok kesehatan yang mengalami kenaikan 0,01 persen.
Baca Juga: Warga Batam Kini Bisa Bayar Pajak Melalui Qris, Begini Caranya
Sementara itu kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga turun sebesar 0,41 persen. Untuk kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, kelompok penyediaan makanan dan minuman serta kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan indeks harga.
“Kota Tanjungpinang (salah satu dari dua kota IHK di Provinsi Kepulauan Riau) juga mengalami inflasi bulan Juli 2023 sebesar 0,35 persen sehingga inflasi gabungan 2 kota IHK di Provinsi Kepulauan Riau pada bulan Juli 2023 menunjukkan inflasi sebesar 0,27 persen,” terang Agus, Kamis (3/8).
Sementara itu tingkat inflasi tahun kalender Juli 2023 sebesar 0,92 persen, jauh lebih rendah jika dibandingkan inflasi tahun kalender Juli 2022 yang sebesar 4,41 persen. Tingkat inflasi tahun ke tahun Juli 2023 terhadap Juli 2022 sebesar 2,40 persen, jauh lebih rendah jika dibanding dengan inflasi tahun ke tahun Juli 2022 terhadap Juli 2021 sebesar 6,15 persen.
Agus menambahkan, dari 24 kota IHK di Sumatera, tercatat 23 kota mengalami inflasi pada bulan Juli 2023 dan hanya 1 kota yang mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 1,30 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Bandar Lampung sebesar 0,03 persen. Deflasi terjadi di Kota Lhokseumawe sebesar 0,04 persen. Kota Tanjungpinang dan Kota Batam menduduki peringkat tertinggi ke-12 dan ke-19 dari 23 kota yang mengalami inflasi di Sumatera.
Baca Juga: Optimisme Investor Dalam Pembangunan Jembatan Babin, Ini Progresnya
Dari 370 komoditas yang menyusun inflasi Kota Batam, 88 komoditas mengalami kenaikan harga dan 53 komoditas lain mengalami penurunan harga. Adapun komoditas yang dominan memberikan andil inflasi yaitu cabai merah sebesar 0,1265 persen, bawang merah sebesar 0,0335 persen, kentang sebesar 0,0270 persen, beras sebesar 0,0210 persen, serta rokok kretek filter sebesar 0,0180 persen.
Sementara itu Kepala BPS Kepri, Darwis Sitorus mengatakan, pada bulan Juli 2023, gabungan 2 kota di Provinsi Kepri (Kota Batam dan Tanjungpinang) mengalami inflasi year on year (yoy) sebesar 2,29 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,30. Inflasi terjadi karena kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,74 pada Juli 2022 menjadi 114,30 pada Juli 2023.
Tingkat inflasi month to month (mtm) Juli 2023 sebesar 0,27 persen. Inflasi terjadi karena kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 113,99 pada Juni 2023 menjadi 114,30 pada Juli 2023. Dari 2 kota IHK di Provinsi Kepulauan Riau, tercatat Kota Batam mengalami inflasi year on year (yoy) sebesar 2,40 persen, dan Kota Tanjungpinang sebesar 1,47 persen.
Baca Juga: PT ABH Janji Tuntaskan Perbaikan Instalasi Dalam Waktu Sepekan
Dari 24 kota IHK di Sumatera, tercatat seluruhnya mengalami inflasi year on year (yoy) pada Juli 2023. Inflasi yoy tertinggi terjadi di Kota Bengkulu sebesar 3,23 persen dan inflasi yoy terendah terjadi di Kota Gunung Sitoli sebesar 0,50 persen.
“Kota Batam dan Kota Tanjungpinang menduduki peringkat ke-10 dan ke-20 dari 24 kota yang mengalami inflasi yoy di Sumatera,” terang Darwis. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



