
batampos – Di tengah pergantian musim tidak hanya penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang harus diwaspadai tapi juga penyakit demam berdarah dengue (DBD).
DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan disebarkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Jenis nyamuk ini berkembang biak di genangan air, terutama wadah atau tempat penampungan air. Hal inilah yang menyebabkan DBD sering terjadi kala musim penghujan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam tercatat sampai 10 Oktober 2023 ada sebanyak 316 warga Batam yang terjangkit penyakit mematikan ini. Angka ini jauh menurun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Ya, ada 316 kasus yang dilaporkan. Kasus tertinggi di Januari lalu dengan 65 kasus dan bulan Februari 46 kasus,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Batam Didi Kusmarjadi, Rabu (11/10).
Baca Juga: Pembangunan SLB Negeri di Lahan Fasum Ditolak Warga, Disdik Minta Kepastian dari Pemko Batam
Dikatakan Didi, dari jumlah kasus ini diketahui tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat DBD. Ketiga Pasien meninggal tersebut adalah balita berusia 3 tahun warga Batu Aji. Pasien meninggal setelah mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Graha Hermine.
Satu pasien berusia 29 tahun meninggal di RSBP Sekupang dan satu pasien lagi berusia 50 tahun meninggal di Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK).
“Penderita DBD dapat merasakan gejala berupa nyeri otot dan tulang, demam, sakit kepala, serta muncul bintik merah di kulit. Jika tidak segera ditangani, penyakit ini berisiko menimbulkan komplikasi syok dan perdarahan,” ungkap Didi.
Didi menambahkan, tingginya curah hujan juga mempengaruhi peningkatan kasus DBD. Genangan air timbul setelah hujan berpotensi jadi sarang nyamuk berkembangbiak.
Baca Juga: Dalam 9 Hari 497 Warga Batam Menderita ISPA, Paling Banyak Usia 9 – 60 Tahun
Selain itu, hal ini juga dipengaruhi oleh masih kurangnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan lingkungan tempat tinggalnya. Oleh sebab itu, Dinkes Kota Batam terus berupaya mengendalikan kasus DBD dengan mengajak masyarakat untuk peduli terhadap kesehatan lingkungan dan termasuk juga mengimplementasikan gerakan satu rumah satu jumantik dengan menunjuk juru pemantau jentik (jumantik) memantau dan memastikan tak ada jentik di lingkungan masing-masing.
“Kita juga minta semua kasus tersangka deman wajib dilaksanakan penyelidikan epidemiologi DBD dan melaporkan ke Dinas Kesehatan Batam, ” sebut Didi.
Upaya lain yang dilakukan Dinkes guna meminimalisir kasus DBD ini ialah dengan meningkatkan peran masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk. Mengkampanyekan program 3M, yakni menguras bak mandi, menutup rapat tempat penampungan air, dan menyingkirkan barang-barang bekas.
Baca Juga: Tim Kembali Siapkan Pemindahan 9 KK Warga Rempang ke Batam
“Selain itu dalam mengantisipasi peningkatan kasus yang lebih banyak Dinkes juga mengintrusikan puskesmas meningkatkan kesiapsiagaan DBD, ” ujar Didi.
Peningkatan kesiapsiagaan DBD ini meliputi, meningkatkan peran serta masyarakat untuk ikut peduli mencegah peningkatan DBD ini. Dinkes juga meminta puskesmas untuk mengimplementasikan gerakan satu rumah satu jumantik dengan menunjuk juru pemantau jentik (jumantik) memantau dan memastikan tak ada jentik di lingkungan masing-masing. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



