Minggu, 1 Februari 2026

Warga Binaan Lapas Batam Kembangkan Budidaya Ikan dengan Teknik Bioflok

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Biofolk dikawasan Lapas Batam.
Foto: Eusebius / Batam Pos

batampos – Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lapas Batam terus mengembangkan budidaya ikan dengan teknik bioflok. Program ini kembali dimulai dengan penaburan 1.400 benih ikan nila air tawar di dua kolam buatan berbahan terpal. Budidaya ini merupakan bagian dari upaya pembinaan kemandirian bagi WBP agar memiliki keterampilan yang bermanfaat setelah bebas nanti.

Penaburan benih ikan dilakukan langsung oleh Kepala Lapas Batam yang baru, Yugo Indra Wicaksi, pada Senin (17/2). Ia menggantikan Heri Kusrita yang sebelumnya menjabat sebagai Kalapas Batam. Kegiatan ini berlangsung di area branggang, yakni lahan sempit di antara bangunan lapas dan pagar pembatas.

Dalam arahannya, Kalapas Yugo menyatakan bahwa budidaya ikan dengan teknik bioflok menjadi salah satu langkah konkret dalam pembinaan kemandirian WBP.

“Kami ingin para WBP memiliki keterampilan yang bisa digunakan setelah bebas nanti. Dengan budidaya ini, mereka bisa bersaing dan berusaha di bidang perikanan,” ujar Yugo.

Program ini juga sejalan dengan program Asta Cipta, yang dicanangkan oleh pemerintahan Prabowo-Gibran dalam bidang ketahanan pangan. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mendukung efisiensi anggaran di Lapas Batam. Dengan adanya hasil budidaya ikan dan pertanian mandiri lainnya, biaya operasional untuk konsumsi di dalam lapas dapat ditekan.

Hasil panen ikan dari budidaya ini akan dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur WBP, dan sebagian juga akan dipasarkan ke luar.

Kasi Kegiatan Kerja Lapas Batam, Heri Agus, menambahkan bahwa teknik bioflok ini sudah terbukti memberikan hasil yang baik.

“Saat ini kami masih menggunakan dua kolam terpal, tetapi hasilnya sudah bisa dijual ke pasar. Ke depan, kami berencana menambah lima kolam lagi dengan kapasitas 1.000 ekor per kolam,” ungkapnya.

Teknik bioflok sendiri merupakan metode budidaya ikan yang efisien, hemat biaya, dan ramah lingkungan. Keunggulannya adalah panen yang lebih cepat dibandingkan metode konvensional, yakni hanya dalam waktu empat bulan. Urban farming seperti ini semakin populer karena cocok diterapkan di lingkungan perkotaan dengan lahan terbatas.

Menurut Sujianto dari Tunas Bioflok, teknik ini telah diuji dalam ajang Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat nasional yang diadakan oleh Kementerian. Hasil uji coba menunjukkan bahwa sistem bioflok mampu mengelola limbah secara efisien serta mengurangi ketergantungan pada pakan ikan konvensional.

Secara teknis, bioflok bekerja dengan mendaur ulang kotoran ikan menjadi pakan alami. Limbah yang dihasilkan ikan akan diubah menjadi sumber nutrisi tambahan, sehingga mengurangi kebutuhan pakan pelet. Dengan sistem ini, peternak dapat menghemat biaya pakan sekaligus menjaga kebersihan lingkungan budidaya.

Selain itu, limbah air dari kolam bioflok dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi tanaman. Dengan demikian, sistem ini tidak hanya menguntungkan dari segi perikanan, tetapi juga dapat mendukung pertanian perkotaan.

“Dengan harga jual ikan yang kompetitif dan efisiensi biaya operasional, sistem ini sangat menguntungkan,” ujar Sujianto.

Diharapkan, penerapan teknik bioflok di Lapas Batam dapat menjadi contoh bagi lembaga pemasyarakatan lainnya. Selain memberikan keterampilan baru bagi WBP, program ini juga berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. (*)

 

 

Reporter: Eusebius Sara

Update