
batampos – Masyarakat Seilekop, Kecematan Sagulung kembali menyoroti keberadaan kafe-kafe remang-remang di sepanjang jalan depan RS Elisabet, yang dianggap sebagai sumber keresahan. Mereka mendesak pemerintah menutup tempat-tempat hiburan tersebut karena kerap memicu gangguan ketertiban.
Lurah Seilekop, Bida Agusta, mengakui desakan tersebut. “Hasil rapat dengan perangkat RT RW sudah kita sampaikan ke Satpol PP. Harapannya, kafe-kafe itu ditertibkan karena sudah sangat meresahkan,” ujarnya.
Warga sekitar mengeluhkan suara bising, keributan, serta hilir-mudik kendaraan berknalpot bising yang kerap mengganggu pasien rumah sakit dan ketenteraman lingkungan. “Sering sekali gaduh sampai ke RS Elisabet. Pasien terganggu. Belum lagi keributan karena mabuk. Bagusnya ditutup saja,” kata Indra, salah satu warga.
Baca Juga: Rekonstruksi Kasus Tikaman Maut di Cafe Marbun Dijadwalkan Besok
Pihak kepolisian juga menyatakan telah berkoordinasi dengan Satpol PP untuk mengambil langkah tegas terkait gangguan dari kafe-kafe tersebut. Masyarakat berharap, rekonstruksi besok tidak hanya menjadi bagian dari proses hukum semata, tetapi juga pemicu penataan kembali kawasan Seilekop agar kembali aman dan nyaman.
Keresehan warga ini kembali muncul menyusul kasus pembunuhan tragis yang menewaskan seorang pelaut bernama Denny P. Makahinda di Cafe Marbun, Kelurahan Sei Lekop, Sagulung, pada Minggu dini hari, 18 Mei 2025.
Korban, Denny (33), yang bekerja sebagai pelaut dan tinggal di mess Lautan Lestari Shipyard, sempat dilarikan ke RS Elisabet dalam kondisi luka tusuk di perut, namun nyawanya tak tertolong. (*)
Reporter: Eusebius Sara



