Senin, 19 Januari 2026

Warga Legenda Bali Protes Aliran IPAL ke Drainase, Timbulkan Bau Tak Sedap

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Petugas Bidang Pengelolaan Limbah BP Batam mengecek instalasi IPAL di Perumahan Legenda Bali. Foto: Iyus Rusmana untuk Batam Pos

batampos – Warga Perumahan Taman Legenda Bali, Kelurahan Baloi Permai, Kecamatan Batam Kota, mengeluhkan adanya aliran buangan dari proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang disalurkan ke drainase lingkungan.

Peristiwa ini baru diketahui pada Senin (26/5) malam. Kejadian itu menimbulkan aroma tak sedap di sekitar perumahan dan menimbulkan keresahan buat warga.

Yusuf, salah seorang warga Perumahan Taman Legenda Bali, menyampaikan keprihatinannya atas aliran air dari sistem IPAL yang justru mengarah ke saluran parit. Padahal, menurutnya, air buangan dari rumah tangga seharusnya dialirkan ke penampungan utama untuk diolah lebih lanjut hingga bebas dari limbah.

“IPAL itu terintegrasi dari pipa ke pipa dari rumah warga. Di Legenda Bali itu dibuang ke parit. Artinya limbah rumah tangga itu dibuang ke situ semua,” katanya, Selasa (27/5).

Ia menilai pelaksanaan proyek IPAL terkesan tidak tuntas dan mengabaikan dampak bagi lingkungan sekitar. Kekhawatiran warga terutama muncul karena jenis air buangan yang mengalir ke drainase belum jelas.

“Semua kotoran masuk ke situ. Bayangkan kalau semua (kotoran) tumpah ke Legenda Bali. Tentu kami khawatir. Itu, kan, limbah,” ujar Yusuf.

Ketua RW 13 Legenda Bali, Cip Budianto, juga mengaku baru mengetahui kejadian tersebut dari laporan warga. Ia belum sempat meninjau langsung lokasi, tetapi menerima informasi bahwa bau tidak sedap mulai tercium di lingkungan Blok A di perumahan itu.

“Kita bukannya mau menghambat proyek. Tapi kalau warga saya terdampak atau ada bau tak sedap, kan kasihan. Jadinya enggak nyaman,” ujarnya.

Menurut Budi, dampak yang dirasakan baru terbatas pada empat atau lima rumah di satu blok. Namun, proyek IPAL semestinya memberikan solusi sanitasi, bukan menimbulkan gangguan baru.

“Ironis kalau yang dijanjikan perbaikan sanitasi, tapi malah seperti ini,” kata dia.

Pihak kontraktor proyek sempat menghubunginya dan menyampaikan kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Mereka juga berencana turun ke lapangan untuk mengecek langsung dan mencari solusi.

Budi berharap, pihak pelaksana proyek dan instansi terkait dapat segera menindaklanjuti laporan dan keluhan yang muncul. Ia minta kualitas lingkungan dan kenyamanan warga tetap menjadi prioritas dalam pengerjaan proyek sanitasi tersebut.

“Saya sebagai RW hanya berharap warga tidak terus-menerus terganggu. Tempat kami juga masuk proyek itu, jadi kami mendukung. Tapi tolong jangan abaikan dampaknya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas, Promosi, dan Protokol BP Batam, Ariastuty Sirait, membantah bahwa yang dibuang ke parit merupakan limbah berat. Menurutnya, air yang dialirkan ke drainase hanyalah air kotor seperti air bekas cucian dan air hujan.

“Itu hanya untuk sementara dibuang ke drainase. Paling lama satu minggu,” katanya.

Kondisi ini, lanjutnya, terjadi karena jalur utama di depan Perumahan Duta Plamo akan dibongkar akibat masalah elevasi. Langkah tersebut dilakukan agar pelaksanaan proyek tetap berjalan, meski pengalihan sementara aliran air dilakukan.

Tuty memastikan, setelah pekerjaan di jalur utama selesai, buangan air akan kembali dialirkan ke sistem pengolahan yang semestinya. (*)

Reporter: Arjuna

Update