Minggu, 25 Januari 2026

Warga mulai Mengeluh, Harga Cabai Merah Masih ‘Selangit’

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Warga saat membeli cabai merah di Pasar Summerland, Batubesar. Foto: Yashinta/ Batam Pos

batampos– Harga cabai merah di Batam belum juga menunjukkan tanda-tanda turun. Sudah lebih dari sebulan, harga bumbu dapur ini bertahan di level tinggi dan membuat warga semakin mengeluh.

Di Pasar Victoria, Sekupang misalnya, harga cabai merah besar kini berkisar Rp80–Rp 85 ribu per kilogram, sementara di pasar-pasar tradisional kawasan Sungai Harapan, harganya bahkan menembus Rp 90 ribu per kilogram.

“Biasanya dua minggu juga turun lagi, tapi ini sudah sebulan lebih gak turun-turun. Mahal bingit!,” keluh Widia salah seorang warga Sekupang, Rabu (22/10).

BACA JUGA: Harga Cabai ‘Menggila’, Warga Panik di Pasar Batam, Tembus Rp 110 ribu per Kg

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam, Mardanis, mengatakan kenaikan harga ini mengikuti tren pasar nasional, terutama di Jakarta yang menjadi acuan harga bahan pokok di berbagai daerah.

“Harga cabai di Jakarta sekarang sudah sekitar Rp70 ribu per kilogram. Karena pola harga hampir sama di seluruh daerah, Batam ikut terdampak. Apalagi Batam bukan daerah penghasil cabai, sementara ongkos kirim dari Jawa atau Sumatera juga tinggi,” jelas Mardanis.

Menurutnya, tingginya harga cabai juga dipengaruhi penurunan hasil panen di sentra produksi utama. Saat ini, sejumlah daerah di Jawa dan Sumatera baru memasuki awal musim hujan, yang membuat tanaman cabai rentan terserang penyakit seperti busuk daun dan busuk buah.

“Otomatis kalau di daerah asal sudah mahal, masuk ke Batam akan lebih mahal lagi,” ujarnya.

Untuk menekan laju inflasi bahan pangan, DKPP menyiapkan beberapa langkah strategis. Salah satunya dengan memperkuat kerja sama antar daerah penghasil cabai.
“Rencananya kami akan bekerja sama dengan Sumatera Utara dan Jawa Tengah. Kalau di sana bisa dapat harga lebih murah, otomatis di Batam bisa ikut turun,” kata Mardanis.

Selain itu, Pemko Batam juga mendorong peningkatan produksi cabai lokal. Tahun ini, DKPP bersama 11 kelompok tani mengembangkan 15 hektar lahan cabai merah, ditambah 5 hektar untuk tanaman sayur seperti bayam dan kangkung.

Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) juga melibatkan sekitar 2.400 ibu-ibu kelompok wanita tani, masing-masing menanam 20 polybag cabai, sehingga total sekitar 50 ribu batang cabai atau setara 4 hektar.

“Kalau ditotal, ada sekitar 18 hektar lahan cabai yang sedang dikembangkan di Batam. Perkiraannya, hasil baru akan mulai keluar akhir November atau awal Desember,” jelasnya.

Lahan cabai ini tersebar di Kecamatan Nongsa, Sungai Beduk, dan Sagulung. DKPP juga melaksanakan program Sekolah Lapang (SL) bagi petani, mencakup pembibitan, pengolahan tanah, hingga pemupukan berbasis riset.

Jika semua berjalan lancar, produksi cabai lokal diperkirakan bisa mencapai hampir 1 ton per hari, sementara kebutuhan masyarakat Batam mencapai 10–15 ton per hari.
“Kalau panen sudah mulai jalan, mudah-mudahan harga cabai bisa turun di bulan Desember nanti,” tutur Mardanis.

Untuk sementara, suplai cabai Batam masih mengandalkan pasokan dari Mataram, Yogyakarta, Sumatera Utara, Aceh, dan Padang. Namun, karena daerah-daerah tersebut juga mengalami penurunan produksi, harga tetap bertahan tinggi.

“Ini bukan hanya di Batam, tapi seluruh Indonesia menghadapi kondisi yang sama,” pungkasnya. (*)

Reporter: Rengga

Update