Minggu, 18 Januari 2026

Warga Padati Pacu Laut Belakang Padang

Tradisi Bahari Jadi Magnet Wisata dan Dongkrak Ekonomi Warga

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Lomba pacu laut di Belakang Padang ialam rangkaian peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.

batampos – Riuh sorakan penonton, tiupan peluit, hingga deru mesin speedboat berpadu meramaikan perairan Belakang Padang, Minggu (17/8). Ribuan warga tumpah ruah di Dataran Elang-elang Laut untuk menyaksikan lomba sampan layar, ketinting, hingga speedboat race dalam rangkaian peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejak pagi, arus manusia tak henti berdatangan. Kapal pancung bolak-balik mengangkut penumpang dari Batam menuju Belakang Padang. Antrean panjang di pelabuhan tak menyurutkan semangat warga. Semua ingin menjadi bagian dari pesta bahari tahunan yang selalu dinanti.

“Alhamdulillah, antusiasme sangat tinggi. Bukan hanya warga Batam, bahkan dari Singapura dan Malaysia juga banyak yang hadir. Dibandingkan tahun lalu, pengunjung meningkat signifikan,” ujar Camat Belakang Padang, Abdul Hanafi, di sela-sela acara.

Kemeriahan pacu laut tak hanya memikat masyarakat lokal, tetapi juga menarik perhatian wisatawan dari luar daerah. Tepian pantai dipadati ribuan penonton, sementara pedagang musiman ramai menjajakan makanan dan minuman khas pulau.

“Event ini bukti bahwa tradisi bisa menjadi daya tarik wisata. Ke depan, kegiatan ini akan lebih ditata dan dipromosikan agar Belakang Padang semakin dikenal sebagai destinasi bahari,” tambah Hanafi.

Menurutnya, pacu laut bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana mempererat persatuan. “Di sinilah terlihat masyarakat, pemerintah, dan tokoh lokal bersatu. Semua bergotong royong menyukseskan acara. Semangat kebersamaan ini yang harus terus kita jaga,” jelasnya.

Tradisi pacu laut di Belakang Padang telah mengakar sejak 1964. Bagi warga, bulan Agustus atau yang mereka sebut “Ogos” selalu identik dengan perayaan ini.

Tokoh masyarakat Belakang Padang sekaligus sponsor utama kegiatan, H. Hasyim, menegaskan pacu laut adalah warisan turun-temurun yang harus dilestarikan. “Sejak orang tua kita dulu, setiap tahun momen ini selalu dinantikan. Pacu laut bukan sekadar tradisi, tetapi kebanggaan dan jati diri masyarakat bahari,” ungkapnya.

Ia menambahkan, setiap kali lomba digelar, dampaknya langsung terasa pada ekonomi masyarakat. “Mulai dari jasa bot pancung, tukang becak, hingga UMKM ikut merasakan berkah. Perputaran ekonomi meningkat tajam. Inilah multiplier effect nyata dari tradisi budaya,” katanya.

Tahun ini, jumlah peserta dan penonton tercatat meningkat dibanding tahun lalu. Perlombaan yang telah dimulai sejak 11 Agustus dengan babak penyisihan itu mencapai puncaknya pada final Minggu (17/8).

Sorak-sorai penonton membahana setiap kali perahu melintas garis finis. Warga bertepuk tangan, bersiul, bahkan ada yang menabuh beduk kecil untuk menambah semarak suasana.

“Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Kami bangga bisa mendukung acara ini. Terima kasih kepada Wali Kota Batam dan masyarakat yang kompak menjaga tradisi bahari ini,” pungkas Hasyim.

Kini, pacu laut Belakang Padang bukan hanya pesta rakyat, melainkan juga magnet wisata yang menggerakkan ekonomi sekaligus menjaga identitas budaya masyarakat pesisir. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update