
batampos – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat sebanyak 414 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terjadi sepanjang Januari hingga 31 Juli 2025. Jumlah ini menunjukkan penurunan signifikan jika dibandingkan dengan 871 kasus yang terjadi sepanjang tahun 2024.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi, menyampaikan bahwa situasi DBD tahun ini relatif lebih terkendali dibanding tahun lalu, meskipun ancaman penularan tetap perlu diwaspadai terutama menjelang puncak musim hujan di akhir tahun.
“Hingga akhir Juli 2025, jumlah kasus DBD tercatat sebanyak 414 kasus dengan angka insidensi (IR) sebesar 30,85 per 100.000 penduduk. Tahun lalu angkanya jauh lebih tinggi, mencapai 68,21 per 100.000 penduduk, dengan total 871 kasus sepanjang tahun,” ujar dr. Didi, Senin (4/8).
Ia menyebutkan bahwa meskipun terjadi penurunan jumlah kasus secara umum, masyarakat tidak boleh lengah. Pasalnya, siklus tahunan DBD menunjukkan kecenderungan peningkatan kasus pada triwulan akhir.
“Tren kasus DBD seringkali naik menjelang akhir tahun seiring meningkatnya curah hujan. Maka dari itu, langkah pencegahan harus tetap ditingkatkan,” tegasnya.
Selain penurunan kasus, jumlah kematian akibat DBD juga mengalami penurunan signifikan. Jika sepanjang tahun 2024 tercatat 14 kasus kematian, maka hingga akhir Juli 2025 baru tercatat 2 kasus kematian akibat penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.
“Kami bersyukur jumlah kematian berhasil ditekan. Ini berkat respons cepat petugas kesehatan serta peningkatan kesadaran masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala demam tinggi mendadak,” kata Didi.
Dinkes Kota Batam mencatat bahwa tren kasus DBD dalam tujuh tahun terakhir menunjukkan fluktuasi. Pada tahun 2018, jumlah kasus tercatat 639 kasus dengan 2 kematian. Angka tersebut terus meningkat dan sempat mencapai puncak pada 2022 dengan 902 kasus. Tahun 2023 sempat turun drastis menjadi 392 kasus, sebelum kembali melonjak 871 kasus pada 2024.
dr. Didi menegaskan bahwa musim hujan adalah waktu yang sangat rawan untuk penyebaran DBD karena nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di tempat-tempat berair jernih yang tergenang.
Untuk itu, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dengan langkah-langkah seperti 3M Plus yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air dan mendaur ulang barang bekas. Lalu gunakan lotion anti nyamuk, kelambu saat tidur, dan larvasida.
Bersihkan Lingkungan dengan membuang air yang menggenang di sekitar rumah, rapikan barang bekas yang bisa menampung air dan bersihkan talang air, selokan, dan drainase.
Lindungi Diri dengan memakai baju lengan panjang dan pasang kasa nyamuk/kawat anti nyamuk di ventilasi rumah. Selanjutnya kenali gejala DBD seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, mual, bintik merah di kulit. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan melakukan seminggu sekali bersama keluarga dan warga sekitar.
“Upaya pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Mari kita jaga lingkungan dan lindungi diri agar terhindar dari DBD, terutama di musim hujan ini,” pungkas dr. Didi. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



